Minggu, 09 Maret 2014

tiket promo

<iframe  width="300" height="300"  frameborder="0" scrolling="no" src="http://www.utiket.com/api2/bestpromoflights.asp?lng=indonesia&cur=IDR&domestic=&pid=&size=300&dep=KOE&des="></iframe>

Jumat, 10 Januari 2014

Saat Menjalani Ujian adalah Saat Kita Dimurnikan Tuhan



Saat Menjalani Ujian adalah Saat Kita Dimurnikan Tuhan
( Mazmur 66 : 1 – 12 )
Nats Pembimbing  : Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak (Mazmur 66:10)

Orang beragama & orang atheis, orang tahanan dan orang bebas, dia yang terkenal baik dan saya yang terkenal jahat, punya harapan yang sama. Setiap orang berharap agar dirinya baik – baik saja, hidupnya terhindar  dari berbagai tantangan dan  kesulitan.  Mau bukti ?
1.     Pendeta yang biasanya dapat cap “orang baik”  tiap hari menjalankan pelayanan  sambil berharap dirinya sehat, punya cukup uang dan bahagia bersama keluarga.
2.     Apakah ada orang yang jalankan rencana perampokan sambil berharap… semoga kali ini beta gagal merampok? Apakah ada seorang  pencuri yang bongkar orang pung rumah malam – malam sambil berharap “semoga kali ini beta ditangkap”? ada ko? Tidak ada…
Semua orang, yang buat baik ataupun yang buat jahat punya harapan yang sama, dirinya baik – baik saja, sehat – aman, bahagia dst. Setuju??? … Terima kasih
Manusia adalah mahluk yang suka menilai dan cepat memberi respon terhadap perilaku sesame yang dipandang jahat.
Contoh : kalau  ada teman  yang suka bacari hal, kita akan nilai dia sebagai “orang jahat” dan kita akan berusaha untuk menghindari dia. Kalau suatu ketika dia mendapat ganjaran karena perbuatan jahatnya, kita bilang apa? Apakah kita bilang “ee kasian dia ee” atau kita bilang “surasa…mampooooosss!!!!”. Lebih banyak yang mana? Antara “ee kasian dia dan surasa .. mampos” mana yang lebih sering kita ucapkan??? Silahkan jawab sendiri.  
Reaksi seseorang terhadap kesulitan yang sedang ia hadapi, (terlepas dari penyebab kesulitan itu, apakah dirinya sendiri atau orang lain sebagai penyebab),  sangat dipengaruhi oleh tanggapan / reaksi orang – orang di sekitarnya.
Jika orang – orang di sekitar dia memberi reaksi positif : menguatkan dan mendukung dia agar tabah dan kuat menjalani kesulitan itu, maka seiring dengan berjalannya waktu dia akan menjadi sadar bahwa dia terbatas, manusia biasa yang punya salah tetapi mau berubah menjadi baik.
Tetapi jika orang – orang di sekitarnya memberi reaksi negative : mengecam dan mengucilkan dia  maka seiring dengan berjalannya waktu dia akan berusaha membangun mekanisme pertahanan diri agar orang lain menganggap dia benar dan juga kan sangat membenci dan menolak kesulitan yang sedang dihadapinya. Dia menjadi pendendam. Menjalani masa sulit sambil merencanakan pembalasan dendam… Lu tunggu eee… beta keluar dari sini lu abis…begini – begini beta su pernah hidup di Rutan ni…
Saudaraku bagaimana pandangan kristen tentang kesulitan dan tantangan hidup yang kita alami, baik itu kesulitan akibat perbuatan kita sendiri maupun  kesulitan karena perbuatan orang lain maupun system???
Pembacaan Alkitab tadi adalah mazmur yang berisi nyanyian syukur Israel karena Allah telah menolong mereka dari berbagai kesulitan hidup.  Mereka menjalani hidup yang sulit :
1.     Dikejar musuh tetapi Allah membuka jalan yang tak mungkin menurut manusia (membelah laut teberau menjadi jalan untuk umat menyelamatkan diri dan membuka jalan di tengah sungai yordan sehingga umat di bawah pimpinan Yosua bisa menyeberang) _ Ay.6
2.     Mengalami tekanan dan ancaman dari bangsa lain yang menjadi musuh tetapi Allah membuat mereka menang dalam berbagai peperangan. _Ay.7
3.     Allah mempertahankan jiwa mereka di dalam hidup dan tidak membiarkan kaki mereka goyah_Ay.9
Umat Israel meyaksikan bahwa setiap keadaan itu membuat mereka menjadi sama seperti orang yang sedang terjerat dalam jaring di bawah air sambil mengikat beban di pinggang sehingga tak berdaya untuk bisa melepaskan diri.  Sementara Mereka mau melepaskan diri, ada orang yang jalan di atas kepala mereka sehingga tak mereka tak berdaya. Tetapi Allah melepaskan mereka karena itu mereka mengajak semua orang untuk menyanyikan kuasa kebesaran dan kasih setia Allah yang melepaskan dan membebaskan itu. Yang menarik di sini adalah umat Israel memahami bahwa setiap kesulitan itu mereka alami karena Tuhan sedang memurnikan mereka, seperti orang yang memurnikan perak.
Seperti perak dimurnikan dengan api, hidup kita pun seringkali dimurnikan oleh Tuhan dalam tungku kesulitan dan tantangan yang membuat kita menderita jiwa dan raga.. Dalam kesedihannya pemazmur berkata, “Kami telah menempuh api” (Mazmur 66:12).
Proses pemurnian memang dapat sangat menyakitkan, tetapi tidak akan menghancurkan. Allah, Sang Pemurni duduk di dekat tungku untuk menjaga nyala api. Dia tidak akan membiarkan kita dicobai melebihi kemampuan kita; ketika saya  sakit parah, ketika saudara berada dalam tahanan, ketika saudara mengalami masalah RT, percayalah Allah tidak jauh, Allah ada bersama dan di dekat kita. Allah  sudah memperhitungkan semua hal ini kita alami demi kebaikan kita.
Mungkin ada yang bilang : iya pdt omong begitu karena sonde rasa beratnya hidup di tahanan na… saya memang tak merasakannya secara langsung tapi saya bisa membayangkan  : betapa tak enaknya berpisah dgn keluarga dan jauh dari rumah, betapa meresahkan saat menunggu waktu sidang dalam ketidak-pastian,  dan hati yang sakit mengingat semua kenangan indah saat hidup bebas.
Saudaraku… Kita barangkali tidak dapat mengerti mengapa kita harus menanggung kesengsaraan tahun demi tahun. Cobaan seakan-akan tidak akan pernah berakhir dan tidak ada tujuannya. Hari-hari yang kita jalani tampaknya berlalu dengan sia-sia. Kita merasa seakan-akan tidak melakukan sesuatu hal yang berarti.
Akan tetapi saudaraku, Allah tidak pernah mengerjakan sesuatu yang sia- sia—kita sedang dimurnikan. Dia menempatkan kita ke dalam tungku pencobaan supaya kita memperoleh kesabaran, ketaatan, kerendahan hati, belas kasih, dan juga keunggulan lain yang belum kita miliki.
Jadi, janganlah takut dan jangan menggerutu. Pencobaan saya dan saudara  saat ini, betapa pun pedihnya, sudah disaring melalui hikmat dan kasih Allah.
Ingatlah Allah, Sang Pemurni sedang duduk di samping tungku, menjaga nyala api, mengamati prosesnya, menunggu dengan sabar sampai wajah-Nya terpantul di permukaan hidup kita, sampai hidup kita memancarkan kasih dan kemuliaanNya.  
Kekasih – kekasih Tuhan, dari perenungan ini saya mau menekankan 2 hal ini bagi kita :
1.     Bagi saudara yang adalah tahanan : betatapun keadaan di tempat ini sulit, tetaplah memiliki harapan yang baik, karena harapan yang baik akan mendorong kita untuk bertahan sampai pada akhirnya. Saudara keluar dengan keberuntungan : Hidup saudara telah dimurnikan Tuhan dan saudara menjadi berkat untuk kami yang di luar tahanan. Dalam menjalani masa sulit ini, bersandarlah pada Tuhan. Entahkah ujung jalan hamper ditemui ataukah masih jauh, Tuhan akan setia menuntun saudara.
Tuhan menjadi tempat pengungsianmu.  Tuhan mengenal orang – orang yang berlindung padaNya.  
2.     Bagi kita yang bukan tahanan : Didiklah diri sendiri untuk selalu memberi tanggapan / reaksi positif dan menghindarkan diri dari mengecam para tahanan. Jangan pernah bilang “surasaaaa atau mampoooosssss !!! …. pada mereka.Belajarlah untuk lihat cermin dulu sebelum member tanggapan / reaksi. 
Mari dukung dan berjuang bersama mereka agar ada pertobatan, ada keadilan dan kebenaran yang nyata. Karena mereka juga adalah sesame kita, sebelah badan kita (Aok Bian – Dalek Esa – Satu perut).

Jumat, 01 November 2013

Senin, 08 Juli 2013

Tanggapan Jemaat Terhadap Karya Roh Kudus

 
Tanggapan Jemaat Terhadap Karya Roh Kudus
(Kisah Para Rasul 2 : 41 - 47)
Nats Pemb : Filip 2 : 1-3a

Salah satu ciri mahluk hidup adalah memberi tanggapan terhadap suatu hal atau kejadian yang menimpa dirinya maupun orang lain.  Hukum Aksi – Reaksi. Ada tanggapan yang bersifat positif-negatif. Ada tanggapan yang efeknya kurang, ada yang normal dan ada juga yang luar biasa. Penilaian pribadi dan penilaian pihak lain tentang tanggapan seseorang biasanya subyektif, tergantung dari sudut pandang mana kita menilai. Sebagai orang Kristen, mari dengan sadar kita belajar untuk memikirkan apa tanggapan Tuhan terhadap pikiran kita, kata-kata kita, sikap dan perbuatan kita.
Bacaan kita tadi bercerita tentang bagaimana tanggapan orang – orang yang mendengar Petrus berkhotbah tentang kebangkitan Yesus dan karya Roh Kudus dalam peristiwa pentakosta itu. Para pendengar ini menerima / mengaminkan khotbah Petrus dengan cara memberi diri mereka untuk dibaptis dan hari itu jemaat Mula – mula terbentuk dengan jumlah yang bertambah dari sebelumnya yaitu kira-kira 3000 orang.  Tentulah ini pentakosta dan khotbah Petrus mengubah pandangan banyak orang tentang siapa itu Yesus.  Tetapi kita lihat disini bahwa tanggapan mereka bukan hanya memberi diri untuk dibaptis saja sehingga tercatat sebagai anggota jemaat mula- mula, tetapi lebih dari itu. Ada beberapa hal penting sebagai tanggapan jemaat disini :
1.      Tanggapan Pertama : Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul (ay.42a).  Mestinya reaksi kita terhadap karya keselamatan Allah tidak hanya terlihat pada sakramen : baptisan dan perjamuan kudus saja. Reaksi kita juga harus Nampak dalam kesediaan untuk terus – menerus mendengar dan melakukan pengajaran Kitab Suci.
Kekasih Tuhan, Bertekun dalam mendengar pengajaran ini adalah hal yang sangat penting. Mengapa? Karena setiap pengajaran tentang isi kitab Suci memberi hikmat kepada kita dan menuntun kita kepada jalan keselamatan  oleh iman kepada Yesus Kristus (2 Tim 3:15-17).  Ini berarti  reaksi jemaat mula- mula terhadap karya Roh Kudus &  rasul Petrus adalah Reaksi Positif.  Bagaimana dengan kita?  Kecenderungan kuat sekarang adalah ada banyak orang Kristen yang tidak suka mendengar pengajaran tentang isi Alkitab. Contoh : Khotbah kalo su terlalu lama orang mengantuk atau mengomel. Bercerita dengan teman terdekat dst. Atau jika pengajaran hari itu pas dengan kita : ada yang terima lalu sadar, tapi ada yang marah – marah dan tersinggung; pendeta su khotbah apalai ni… pasti sangaja singgung beta ni… beta sonde akan datang gereja lae … ini berarti ada masih banyak orang Kristen yang member reaksi negative terhadap Karya Roh Kudus dan pengajaran tentang kitab suci yang telah didengarnya. Amin saudara? Jika demikian, mari kita beri diri untuk dituntun Roh Kudus sehinggga bisa memberi reaksi positif.
2.      Tanggapan Kedua : Mereka bertekun dalam persekutuan. Mereka semua bersatu. Hidup bersama secara utuh. Dan persekutuan hidup jemaat mula- mula yang utuh ini dibuktikan ketika mereka : (Mari kita perhatikan dengan baik untuk menilai persekutuan kita sebagai jemaat )
a)      Meski ada banyak mujizat dan tanda yang dilakukan oleh para rasul, tetapi para rasul dan jemaat tetap bersatu. Tidak ada  pengikut rasul A karna khotbah / mujizatnya lebih hebat dari rasul B.  Bagaimana dengan kita? Biasanya di jemaat itu ada pengikut penatua A, ada pengikut Penatua B. Ada kelompok pendeta A, ada Pendeta B, jemaat terpecah – pecah.  Sebenarnya ini tidak perlu terjadi karena MUjizat, tanda ajaib dan pengajaran itu ada untuk memperkuat iman jemaat, bukan untuk mencari nama bagi orang yang melaluinya mujizat, tanda ajaib dan pengajaran itu Tuhan beri.  Jika saya sebagai pendeta dengan sadar merancang khotbah ini atau melakukan pelayanan apapun dengan maksud agar jemaat mengidolakan saya, puji nama saya dst… itu berarti saya sedang mencari kemuliaan diri dan sambil berusaha menggeser kemuliaan Allah. Apakah bisa? Apakah saya akan dapat kemuliaan nanti? Mungkin Pujian jemaat akan saya dapat, tetapi akan ada waktu  dimana orang yang memuji saya itu juga  akan menghujat saya.
b)      Mereka Menjadikan Segala kepunyaan / milik mereka sebagai kepunyaan bersama. Apa yang dimiliki seorang jemaat dapat dinikmati oleh anggota jemaat lain. Selalu ada anggota jemaat yang bersedia menjual harta miliknya kemudian uang hasil penjualan itu dibagikan kepada semua orang sesuai keperluan / kebutuhan masing – masing. Dengan kata lain selalu ada anggota jemaat yang bersedia mengorbankan apa yang menjadi miliknya agar dapat memenuhi kebutuhan / keperluan anggota jemaat lain. Ini berarti prinsip hidup berbagi dan sepenanggungan yang dipraktekkan disini. Bagaimana dengan hidup persekutuan kita?  Jika kita mau jujur ada banyak dari orang yang Kristen yang hidup dalam prinsip :  prinsip Lu – Lu, Beta – Beta; bersikap egois / mementingkan diri sendiri. Katong dua baosadara ma uang sonde basodara Oooo.  Jika kita ada orang yang minta pertolangan pada kita berulang kali, apa yang kita bilang : mari…mari. Aman sa beta pasti tolong. Ataukah kita muka asam dan bilang tolong satu dua kali bae ma, kalo su ulang – ulang begini, lama-lama ju beta rasa ang? Kira beta sonde ada kebutuhan ju ko? Saudaraku, bagi mereka yang dalam kekurangan tetapi bersedia berbagi dengan mereka yang membutuhkan, alkitab berkata (saya ajak kita AMSAL 11: 24-25) “Ada yang menyebar harta tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum”.  Ini berarti dalam perhitungan ekonomi : memberi = kurang tetapi dalam perhitungan Alkitab, memberi = cukup.
c)      Mereka bertekun dan dengan satu hati mereka berkumpul tiap – tiap hari dalam Bait Allah, kemudian Mereka memecahkan roti di rumah masing – masing secara bergilir dengan gembira dan tulus hati.  Mereka makan bersama sambil memuji nama Allah. Bagaimana dengan kita?
Saya tidak mengajak kita untuk kasih tinggal rumah, tiap hari / sepanjang hari kita ibadat di gereja. Tidak. Tapi berdasarkan pengajaran ini, saya mau ajak kita untuk menjawab setiap panggilan pelayanan di gereja dan di rumah dengan satu hati, dengan gembira dan tulus hati untuk memuji nama Allah. Jangan duduk ibadat bersama tapi ada bamarah. Jangan ada jadwal pelayanan di rumah kita mengomel : hmmm tarlaen katong pung rumah sa tarusss… atau, neu beta kasih persembahan ma ingat ko layani iko beta pung mau, kalau sonde awas lu….
3.      Tanggapan anggota jemaat mula – mula terhadap karya Roh kudus dan pengajaran para rasul ini adalah tanggapan yang luar biasa dan positif. Buktinya jemaat mula- mula ini disukai oleh semua orang dan tiap hari jumlah mereka semakin bertambah karena semakin banyak orang yang suka cara hidup mereka dan percaya kepada Yesus.  Ini berarti kita tak perlu repot – repot cari jalan / bujuk orang  supaya orang suka kita, suka persekutuan kita. Cukuplah dengan berusaha di gereja, di rumah, di tempat kerja dan sekolah, di mana saja, kita memberi reaksi positif terhadap karya Roh Kudus dan pengajaran alkitab yang telah kita dengar. Dengar dan lakukan. Dengan sendirinya orang lain memberi penilaian positif dan efeknya akan luar biasa. Orang akan menerima kita dan datang pada kita untuk bersama mereka kita puji Tuhan.  Bukan hanya orang lain yang terima dan suka kita, Tuhan pun demikian.  Berbicara tentang apa tanggapan Tuhan terhadap pikiran, kata, sikap dan perbuatan kita saya ingin menceritakan kembali sebuah dialog imajiner  Judulnya
“Tuhan Tolak, Iblis Tersinggung”
Seorang anak lulus ujian nasional dan keluarganya buat ibadat syukuran.
Sepanjang waktu ibadat syukur ujian itu, Tuhan geleng – geleng kepala sambil mendecak : ckckckc ah ah ah… sementara itu Iblis mondar – mandir sambil mengomel.

Selesai ibadat, si anak memberi sambutan.
Anak : pertama-tama, saya bersyukur kepada Tuhan karena telah ikut campur tangan sehingga saya bisa menyelesaikan pendidikan di bangku SMA dan lulus ujian ini.
Tuhan : Hmmm apa? Coba lu omong ulang? Dari tadi beta lihat pendeta pimpin ibadat ni beta bingung. Basong buat ibadat syukur pada sapa? Syukur kepada Tuhan? Beta ni??
Lu kira beta ikut campur tangan waktu lu bolos sekolah dan duduk bakumpul di blakang kantin dengan lu pung kawan? Lu kira beta ikut campur tangan waktu sekretaris kelas isi daftar hadir lu ADA padahal lu ALPA? Lu kira beta yang tolong lu waktu lu menyontek waktu ujian? Lu kira beta kasih lu berkat waktu lu dapat bocoran soal UN?  Lu kira beta ikut campur tangan waktu guru terpaksa katrol lu pung nilai kasih naik??? Itu bukan beta. Itu iblis pung kerja jadi lu tak usah bersyukur pada Beta. Pi minta trima kasih di Iblis sana. Lu mengaku beta pung anak ma andia lu sonde pernah mau dengar beta.
Iblis : jangan datang di beta lai. Beta su boleh kerja bantu lu setengah mati baru lu buat ibadat syukur untuk Tuhan. Lu bilang Tuhan yang campur tangan bantu lu ko lulus. Beta yang kerja sama-sama dengan lu ma lu bilang Tuhan… lu sonde tau trima kasih.  Beta tersinggung dengan lu pung cara ni. Tuhan tolak, iblis tersinggung. 

Entri Populer

Total Tayangan Halaman

Laman

Apa Pendapat Anda Tentang Blog ini?

Translate